Saturday, February 18, 2012

Manfaat Mentimun Untuk Menghilangkan Lingkaran Hitam Pada Mata

Lingkaran hitam di bawah mata memang menjadi problem sebagian besar cewek untuk tampil cantik. Hal ini disebabkan oleh beberapa macam faktor, seperti kurang tidur, kelelahan atau penat dengan tugas menumpuk yang berakibat menimbulkan stress. Begitu pula bila terserang penyakit serta kekurangan nutrisi dan pola diet yang terlalu ketat. Namun tidak perlu bingung untuk mengatasi hal tersebut, karena dari beberapa penelitian ada jenis sayuran yang dapat mengatasi lingkaran hitam pada mata antara lain adalah Mentimun. Mentimun atau timun sering dijadikan sebagai kudapan. Ternyata, jenis sayuran ini memiliki khasiat yang bagus untuk kulit.
Berikut lima rahasia manfaat timun, seperti yang dikutip dari Leons Beauty Tips and Secrets.
1. Mentimun Dapat mengurangi lingkar hitam di bawah mata. Timun memiliki kemampuan yang cepat, mudah dan aman untuk membantu mengurangi lingkar hitam di bawah mata. Kandungan antioksidan dan silika dari timun akan membuat bagian mata menjadi lembut dan mulus. Letakkan potongan timun pada mata dan diamkan selama 10-15 menit. Selain untuk mengurangi lingkaran hitam manfaat timun juga sebagai berikut :
2. Menghilangkan bengkak pada mata. Mata yang bengkak bisa disebabkan karena kurang tidur, kebanyakan tidur, menangis atau kelelahan. Timun dapat dengan mudah menghilangkan masalah ini. Timun memiliki kandungan asam askorbik yang tinggi, sehingga dapat menurunkan kadar air dan bengkak pada mata. Letakkan mentimun di kedua mata, lalu pejamkan mata Anda selama 15 menit.
3. Mengurangi noda hitam pada wajah. Timun akan mengurangi noda hitam dan kerut pada wajah. Anda bisa meletakkan potongan timun pada wajah atau bisa juga memblender timun dan di letakkan jus pada wajah. Rasakan hasilnya, wajah akan lebih berkilau, lembut dan mulus.
4. Merawat Kulit yang terbakar sinar matahari. Kulit yang terbakar matahari bisa disembuhkan dengan meletakkan timun di area kulit yang terbakar. Timun memiliki efek dingin dan dengan cara lembut menenangkan kulit, serta mempercepat proses penyembuhan.
5. Mengecilkan pori-pori. Mentimun merupakan toner yang sangat baik. Anda dapat mencampurnya dengan cuka apel, putih telur dan tomat. Bahan-bahan tersebut jika dihaluskan dan diterapkan pada wajah akan membuat pori-pori kulit lebih mengecil. Diamkan masker tersebut selama 10 menit, lalu bilas wajah sampai bersih.
6. Mentimun juga dapat membuat bola mata menjadi bening.
Selamat mencoba

Tips Sederhana Menjaga Wajah Tetap Segar Berseri

Sebagai seorang wanita sangat mengharapkan mempunyai wajah yang selalu cantik, menawan dan selalu terlihat segar berseri. Banyak produk-produk yang sekarang ini ditawarkan untuk memenuhi kebutuhan tersebut, jika kita tidak pandai-pandai dalam memilih produk yang sesuai dengan kesehatan kulit wajah kita bukannya cantik malah menjadi tidak karuan tuh wajah.
Bahan-bahan alamiah yang diproses dengan cara alami akan lebih sehat untuk kulit wajah kita. Adapun cara yang paling sederhana untuk menjaga wajah tetap cantik dan segar berseri, diantara nya sebagai berikut :
1. Setiap bangun tidur usahakan untuk mengkonsumsi air putih hangat sedikitnya satu gelas.
2. Kurangi makan-makanan yang banyak mengandung minyak goreng (goreng-gorengan)dan kurangi juga makan-makanan yang banyak mengandung gula.
3. Gunakan sabun pencuci muka yang sesuai dengan jenis kulit wajah (tidak perlu mahal yang penting sesuai dengan kulit wajah kita)
4. Gunakan penyegar wajah minimal sehari 5 s/d 6 kali (pilih penyegar yang sesuai dengan kulit wajah)
5. Gunakan pelembab pada pagi dan siang hari
6. Kurangi pemakaian bedak (bedak hanya digunakan ketika berpergian)
7. Pakai masker seminggu sekali dengan bahan alami, misalnya campuran susu dengan madu akan membuat wajah akan terlihat putih berseri dan kencang, dll.
Lakukan hal diatas secara rutin dan buktikan hasilnya, wajah akan terlihat lebih cantik dan segar berseri serta bebas dari masalah jerawat.

Friday, February 17, 2012

Konstruksi Pembuangan Limbah Rumah Tangga Sederhana

Limbah rumah tangga adalah limbah yang berasal dari dapur, kamar mandi, cucian, limbah bekas industri rumah tangga dan kotoranmanusia. Limbah merupakan buangan/bekas yang berbentuk cair, gas dan padat. Dalam air limbah terdapat bahan kimia sukar untuk dihilangkan dan berbahaya. Bahan kimia tersebut dapat memberi kehidupan bagi kuman-kuman penyebab penyakit disentri, tipus, kolera dsb. Air limbah tersebut harus diolah agar tidak mencemari dan tidak membahayakan kesehatan lingkungan. Air limbah harus dikelola untuk mengurangi pencemaran.
Pengelolaan air limbah dapat dilakukan dengan membuat saluran air kotor dan bak peresapan dengan memperhatikan ketentuan sebagai berikut ;
1. Tidak mencemari sumber air minum yang ada di daerah sekitarnya baik air dipermukaan tanah maupun air di bawah permukaan tanah.
2. Tidak mengotori permukaan tanah.
3. Menghindari tersebarnya cacing tambang pada permukaan tanah.
4. Mencegah berkembang biaknya lalat dan serangga lain.
5. Tidak menimbulkan bau yang mengganggu.
6. Konstruksi agar dibuat secara sederhana dengan bahan yang mudah didapat dan murah.
7. Jarak minimal antara sumber air dengan bak resapan 10 m.
Pengelolaan yang paling sederhana ialah pengelolaan dengan menggunakan pasir dan benda-benda terapung melalui bak penangkap pasir dan saringan. Benda yang melayang dapat dihilangkan oleh bak pengendap yang dibuat khusus untuk menghilangkan minyak dan lemak. Lumpur dari bak pengendap pertama dibuat stabil dalam bak pembusukan lumpur, di mana lumpur menjadi semakin pekat dan stabil, kemudian dikeringkan dan dibuang. Pengelolaan sekunder dibuat untuk menghilangkan zat organik melalui oksidasi dengan menggunakan saringan khusus. Pengelolaan secara tersier hanya untuk membersihkan saja. Cara pengelolaan yang digunakan tergantung keadaan setempat, seperti sinar matahari, suhu yang tinggi di daerah tropis yang dapat dimanfaatkan.
Limbah air bekas mandi dan cuci dialirkan ke bak kontrol dan langsung ke sumur resapan. Air akan tersaring pada bak resapan dan air yang keluar dari bak resapan sudah bebas dari pencemaran.
• BAHAN
1. Besi beton ½-25 cm
2. Batu bata
3. Kerikil
4. Semen
5. Pasir
• PERALATAN
1. Gergaji
2. Cetok
3. Cangkul
4. Skop
5. Parang
6. Ember
7. Besi runcing
8. Meteran
• PEMBUATAN
Tempat mandi dan cuci dibuat dari batu bata, campuran semen dan pasir. Bak kontrol dibuat terutama untuk saluran yang berbelok, karena pada saluran berbelok lama-lama terjadi pengikisan ke samping sedikit demi sedikit, dan akan terjadi suatu pengendapan kotoran. Dibuat juga sumur resapan yang terbuat dari susunan batu bata kosong yang diberi kerikil dan lapisan ijuk.
Sumur resapan diberi kerikil dan pasir. Jarak antara sumur air bersih ke sumur resapan minimum 10 m agar supaya jangan mencemarinya. Pembuatan dapat dilihat pada Gambar 1 dan 2 di bawah ini.




• Gambar 2. Bak Saluran Bekas Mandi dan Cuci.
Saluran air bekas mandi dan cuci :
A : Kamar mandi dan cuci
B : Bak kontrol
C : Bak resapan
• PENGGUNAAN
1. Untuk membuang air cucian
2. Untuk membuang air bekas mandi
3. Untuk membuang air kotor/bekas lainnya.
• PEMELIHARAAN
1. Saluran setiap hari perlu dibersihkan dengan memakai sapu, atau alat lain.
2. Jangan membuang benda-benda padat seperti : batu kerikil, kertas, kain, plastik dan barang-barang lainnya
3. Semua resapan perlu sering dikontrol, agar bagian-bagian yang tersumbat dibersihkan.
• KEUNTUNGAN
Pembuatannya mudah, bahan-bahan ada disekitar kita dan konstruksinya sederhana.
• KERUGIAN
Pembuangan air kotor ini juga tergantung dari struktur lapisan tanah. Tanah yang liat pada musim kemarau akan bongkah-bongkah hal ini mungkin berpengaruh pada sumber air bersih. Untuk mengatasi hal ini agar jaraknya perlu lebih diperpanjang lagi.
Catatan lain-lain :
Secara rutin perlu dikontrol apakah ada yang rusak atau tidak.
• DAFTAR PUSTAKA
Pembuatan Saluran Bekas Mandi dan Cuci. Jakarta : Direktorat Perummahan, Ditjen Cipta Karya-Departemen Pekerjaan Umum.

Wednesday, February 15, 2012

Manfaat Daun Pisang Kering (Kleres)

apakah anda mengetahui daun pisang yang telah kering atau disebut dengan kleres. daun pisang kering ini mungkin difikiran anda hanya dapat digunakan sebagai keterampilan saja misalnya membuat tas atau pigora, atau bahkan anda tidak ingin memanfaatkan untuk apapun karena bahan tersebut bisa dikatakan sebagai sampah yang tidak dapat dimanfaatkan lagi. ternyata daun pisang atau kleres dapat digunakan sebagai bahan pewarna makanan yang menghasilkan warna hitam atau abu-abu pada makanan. adapun resep makanan dari kleres selain rasanya yang gurih juga pembuatannya sangat mudah.
resep :
1. 5 helai Daun pisang yang telah kering (kleres)
2. 1 buah kelapa mudah
3. 1kg ketela pohon
4. 1/2 kg gula pasir
5. 4 sendok makan enjet atau air kapur
6. 3 helai dau pandan dipotong dadu kecil-kecil
7. 1 sendok teh garam
8. 3 helai daun pisang yang mudah dipotong persegi untuk pembungkus adonan
cara membuat:
1. bakar daun pisang yang telah kering kemudian ditumbuk halus dan saring ke dalam ayakan
2. parut kelapa mudah
3. parut ketela pohon, hasil parutan ketela pohon dicampur dengan ayakan daun pisang yang telah dibakar tadi kemudian aduk hingga rata sehingga adonan menjadi warna hitam. lalu campur dengan gula pasir, air kapur, garam dan aduk hingga merata. Setelah semua tercampur ambil setengah dr parutan kelapa mudah dan aduk hingga rata.
4. ambil sebanyak dua sendok makan adonan tadi dan letakan pada daun pisang yang telang dipotong persegi, diatas adonan sebelum dibungkus beri potongan daun pandan. kemudian dibungkus dan diberi lidih agar tidak terbuka. ulangi untuk adonan berikutnya
5. kemudian kukus didalam dandang kurang lebih 1 jam
6. setelah harum dan matang angkat dan buka dr kulit pisang td, tata dan taruh di atas piring kemudian taburi dengan parutan kelapa.
7. sajikan ketika masih hangat.
selamat mencoba

Monday, February 13, 2012

Filariasis

Imagine having your legs and genital organs puff up to roughly the size of elephant limbs. Now imagine having to attend to your daily activities while attempting to move your huge and swollen body parts. This is a type of disease that actually does happen to people.
Filariasis, also known as lympathic filariasis (LF), is most common in tropical countries and is caused by parasitic nematode worms that look like tiny threads. The infection caused by these filarial worms, Wuchereria bancrofti, Brugia malayi and Brugia timori, are transmitted by mosquitos. Fortunately, this infectious disease is very rare in Western countries.
Lymphatic filariasis has existed for a long time. Reports of the disease have been documented in ancient Greek literature, and its symptoms were first recorded in the 16th century, during early explorations of Goa, Asia and Africa. It was only in later centuries when a better understanding of filariasis was developed, pinpointing mosquitoes are carriers of the worms.
According to the World Health Organization (WHO), as of 2006, there has been an estimated 1.3 billion people in more than 80 countries at risk of contracting LF. At present, there are over 120 million infected individuals, and over 40 million of them have been disfigured and severely debilitated by the disease. Affected people mostly live in India, Africa, South Asia, the Pacific, and South and Central America.
LF is considered the highest among the world’s diseases that cause severe disability and disfiguration. It mostly strikes poor portions of the population in areas where there are great numbers of breeding sites for mosquitoes that carry the disease.
Lymphatic Filariasis starts from the bite of an infected mosquito, or when a person comes into contact with water where infected mosquitoes breed. The parasitic worms that are transferred to humans burrow into the lymphatic system, the body’s network of vessels and nodes which carry lymph fluid to the tissues and blood. The lympathic system forms a major part of our body’s immune system.
Adult worms will live in the lympathic vessels for 4 to 6 years, and the females can produce a large number of larvae (microfilariae) which travel around in the bloodstream. The infection can be spread when a mosquito that has bitten an infested person. The mosquito then becomes a carrier of microfilaria which will develop into an infective parasite and be transmitted once the mosquito bites other people. In the endemic areas where the disease is concentrated, it is estimated that 54% of the population are infected by microfilariae.
Although it is not fatal, filariasis is chronic and very painful. The disease causes an accumulation of fluid (hydrocoele); swelling (lymphoedema) of the subcutaneous layer of the skin which houses fat and connective tissues; passing of cloudy-colored urine (chyluria), and in its most extreme form, the skin and underlying tissues of the lower limbs and scrotum thicken and become distended, taking on the resemblance of elephant limbs and earning it the name, elephantiasis.
The inflammation that starts within the skin is usually caused by the immune system’s reaction to the parasite. It can also be caused by bacteria which may have invaded the skin because of an already weakened immune system. At this point, the lymph nodes and lympathic vessels will also start to swell.
These symptoms develop in a very slow manner, sometimes taking years. Those who are infected do not show any outward signs until the disease reaches its late phase. In the latter stage of the disease, affected persons are immediately identified because of their grossly swollen legs, arms, breasts or genitals with cracked, thickened skin that is rough and hard to the touch. LF can also cause damage to the kidneys and the entire lympathic system. People who are affected by lympathic filariasis are subjected to social stigma and are unable to live a normal life.
In the past, it was very difficult to diagnose filariasis because the parasitic worms could only be detected by looking at blood samples through a microscope. These parasites are also nocturnal, which meant that they only showed up in the blood shortly before or after midnight. Just recently, a simple and very sensitive ICT “card test” was developed that could identify parasite antigens, foreign protein substances from an infection, in just a few drops of blood. This could now be achieved at any time during the day without the need of a laboratory.
Other methods of detecting the presence of lympathic filariasis can be made using a Giemsa stained thick blood film, a test taken at night by examining a drop of blood smeared on a slide, and PCR assays, a sensitive organism-detection method.
Treatment includes medications like ivermectin (Mectizan) and Albendazole, both anti-parasitic drugs. However, the best way to eliminate lympathic filariasis would be to prevent the spread of infection.
In areas where filariasis is endemic (concentrated), treating the whole community involves getting rid of all the parasites in the blood of infected persons. This way, the infection is prevented from spreading. In recent studies, it was found that diethylcarbamazine (DEC), ivermectin and Albendazole combined in single doses can significantly decrease microfilariae in the blood by as much as 99%, and last for 12 months after administering treatment.
While these medications are effective in eliminating adult filarial worms, treatment for late stage elephantiasis and hydrocoele is still in need of improvement. The goal would be to ease the pain and discomfort of swollen body parts. Some treatments include injections of schlerosants to treat fluid accumulation, and surgical procedures to remove excessively swollen tissue. Sometimes a lymphovenous shunt to drain fluid is performed.
To manage existing symptoms, doctors advice a lot of bed rest, wearing elastic bandages or surgical stockings to reduce swelling, wearing comfortable shoes, exercising the swollen limb at regular intervals, raising affected legs at night, and taking antibiotics to prevent bacterial infections. A rigid hygienic regimen is also recommended to prevent further bacterial infection and to stimulate lymph functions. Keeping the affected areas clean can diminish periods of inflammation, also known as “filarial fevers”, and improve the appearance of elephantiasis.
While mild cases are relatively easy to treat, it becomes more difficult if the disease has reached its late stages.
Preventing the occurrence of lympathic filariasis means avoiding the bites of mosquitoes suspected of carrying the disease. The World Health Organization recommends limiting any outdoor activities during nighttime, especially if living in rural areas or jungles; wearing long sleeves and long pants; avoiding dark-colored clothing which is attractive to mosquitoes; not wearing scents like perfume or cologne; treating clothes with an insect repellent like permethrin (Duramon, Permanone); using citronella or lemon eucalyptus leaves to ward off mosquitoes; installing screens and mosquito nets, and using air-conditioning, as cooler air causes mosquitoes to become lethargic.
In a 2007 study by the National Institute of Allergy and Infectious Disease (NIAID), 23,500 people living in Egypt participated in a two-year health assessment program to test the effectiveness of an LF elimination campaign.
While there is no vaccine for LF as of the present, scientists are still working to find a preventive inoculation for the disease. The World Health Organization also continues its drive to stop the infection from spreading, and to ease the symptoms of those already infected. Even global healthcare corporations like SmithKline Beecham, and Merck and Co., Inc. have joined the fight against lympathic filariasis through donation of medicines and supporting the elimination of the disease.

Friday, February 10, 2012

Mengusir Semut Merah

Kehadiran semut merah yang bergerombolan dalam jumlah yang sangat banyak sungguh tidak diinginkan, karena selain gigitan nya yang sangat sakit dan panas sekali juga membuat rumah terlihat jorok. Adapun cara untuk mengusir dan membasmi semut merah dengan bahan alami yang sangat ramah lingkungan diantaranya adalah sebagai berikut :
1.Menggunakan Daun Sirih Untuk Mengusir Semut. Letakkan daun sirih di tempat-tempat semut menempel dan sering kali berkumpul, seperti meja makan, topless gula, ataupun di atas kulkas. Bila perlu, gosok-gosokkan daun sirih tersebut di area yang kita kehendaki. Sebab bau daun sirih dapat membuat semut menyingkir.
2.Menggunakan Merica Biji Untuk Mengusir Semut Kita menaburkan merica biji yang ditumbuk. Terkait ini, kita perlu mengetahui bahwa pedas merica membuat semut kalang kabut. Sebab, semut tidak suka aroma merica tersebut.
3.Menggunakan Jagung Giling Kasar Untuk Mengusir Semut. Kita menggunakan jagung giling kasar untuk membasmi semut. Teori di balik ini adalah semut yang makan jagung giling kasar, ketika ia minum air yang terkandung dalam jagung giling itu, maka perutnya akan mengembang yang akhirnya membunuh semut tersebut.
4.Menggunakan Larutan Sabun Cuci Cair Untuk Mengusir Semut. Kita menggunakan larutan sabun cuci cair. Caranya, kita memasukkan larutan sabun cuci cair. Caranya kita memasukkan larutan sabun cuci cair kedalam botol penyemprot. Selanjutnya, kita menyemprotkan larutan tersebut pada area yang sering kali di datangi semut.
5.Menggunakan Obat Nyamuk Bakar Untuk Mengusir Semut . Kita menggunakan obat nyamuk bakar. Caranya, abu obat nyamuk bakar dimasukkan kedalam lubang semut. Kita memasukkan semuanya sampai penuh dan tidak ada celah. Kemudian kita tutup dengan lelehan lilin.
6.Menggunakan Campuran Sirup, Gula dan Ragi Untuk Mengusir Semut
Kita menggunakan campuran sirup, gula dan ragi untuk mengusir semut. Caranya, campurkan ketiga bahan tersebut sampai berubah menjadi pasta. Oleskan pasta pada kertas, lalu guntinglah menjadi beberapa bagian. Kemudian, letakkan pada tempat yang sering kali dilewati semut. Dengan begitu semut akan memakannya dan teracuni oleh ragi.

Pengertian Pemanasan Global

          Pemanasan global dapat diartikan sebagai menghangatnya permukaan Bumi selama beberapa kurun waktu. Ini adalah gejala alam yang normal sebenarnya. Kalau tidak mendapat pemanasan maka suhu di Bumi bisa menjadi dingin membeku .
          Pemanasan global dapat mengakibatkan  perubahan iklim. Hal ini disebabkan adanya gas efek rumah kaca yang berlebihan (lebih dari kondisi normal) di atmosfer bumi, sebagai akibat terganggunya komposisi gas-gas rumah kaca utama seperti CO2 (Karbon dioksida),CH4(Metan) dan N2O (Nitrous Oksida), HFCs (Hydrofluorocarbons), PFCs (Perfluorocarbons) and SF6 (Sulphur hexafluoride) di atmosfer.
          Sebelumnya kita perlu mengetahui apa itu iklim, efek rumah kaca, Gas rumah kaca dan  darimanakah sumber gas-gas tersebut dihasilkan?.   Secara umum iklim adalah sebagai hasil interaksi proses-proses fisik dan kimiafisik parameternya, seperti suhu, kelembaban, angin, dan pola curah hujan yang terjadi   pada suatu tempat di muka bumi. Iklim muncul akibat dari pemerataan energi bumi yang tidak tetap dengan adanya perputaran/revolusi bumi mengelilingi matahari selama kurang lebih 365 hari serta rotasi bumi selama 24 jam. Hal tersebut menyebabkan radiasi matahari yang diterima berubah tergantung lokasi dan posisi geografi suatu daerah.  Indonesia merupakan daerah yang berada di posisi sekitar 23,5 Lintang Utara 23,5 Lintang Selatan, yang merupakan daerah tropis yang konsentrasi energi suryanya surplus dari radiasi matahari yang diterima setiap tahunnya.
          Pemanasan pada permukaan Bumi dikenal dengan istilah 'Efek Rumah Kaca' atau Greenhouse Effect. Proses ini berawal dari sinar Matahari yang menembus lapisan udara (atmosfer) dan memanasi permukaan Bumi.
            Gas rumah kaca adalah gas-gas yang ada di atmosfir yang menyebabkan efek gas rumah kaca. Gas-gas tersebut sebenarnya muncul secara alami di lingkungan, tetapi dapat juga timbul akibat aktifitas manusia.  Termasuk didalamnya adalah uap air, gas yang mengandung CO2 (Karbon dioksida), CH4(Metan) dan N2O (Nitrous Oksida), HFCs (Hydrofluorocarbons), PFCs (Perfluorocarbons) and SF6 (Sulphur hexafluoride) .
 
Sumber gas rumah kaca
 
Uap Air
          Gas rumah kaca yang paling banyak adalah uap air yang mencapai atmosfer akibat penguapan air dari laut, danau dan sungai.       Uap air adalah gas rumah kaca yang timbul secara alami dan bertanggungjawab terhadap sebagian besar dari efek rumah kaca. Konsentrasi uap air berfluktuasi secara regional, dan aktifitas manusia tidak secara langsung mempengaruhi konsentrasi uap air kecuali pada skala lokal.
 
          Dalam model iklim, meningkatnya temperatur atmosfer yang disebabkan efek rumah kaca akibat gas-gas antropogenik akan menyebabkan meningkatnya konsentrasi uap air mengakibatkan meningkatnya efek rumah kaca; yang mengakibatkan meningkatnya temperatur; dan kembali semakin meningkatkan jumlah uap air di atmosfer. Keadaan ini terus berkelanjutan sampai mencapai titik ekuilibrium (kesetimbangan). Oleh karena itu, uap air berperan sebagai umpan balik positif terhadap aksi yang dilakukan manusia yang melepaskan gas-gas rumah kaca seperti CO2.  Perubahan dalam jumlah uap air di udara juga berakibat secara tidak langsung melalui terbentuknya awan.
 
b. CO2 (Karbon dioksida)
          Karbon dioksida adalah gas terbanyak kedua. Ia timbul dari berbagai proses alami seperti: letusan gunung berapi, hasil pernafasan hewan dan manusia (yang menghirup oksigen dan menghembuskan karbon dioksida); dan pembakaran material organik (seperti tumbuhan).
 
          Manusia telah meningkatkan jumlah karbon dioksida yang dilepas ke atmosfer ketika mereka membakar bahan baker fosil, limbah padat, dan kayu untuk menggerakkan kendaraan dan menghasilkan listrik. Pada saat yang sama, jumlah pepohonan yang mampu menyerap karbon dioksida semakin berkurang akibat perambahan hutan untuk diambil kayunya maupun untuk perluasan lahan pertanian.
 
          Karbon dioksida dapat berkurang karena terserap oleh lautan dan diserap tanaman untuk digunakan dalam proses fotosintesis. Fotosintesis adalah proses memecah karbondioksida dan melepaskan oksigen ke atmosfer serta mengambil atom karbonnya.
 
          Walaupun lautan dan proses alam lainnya mampu mengurangi karbon dioksida di atmosfer, aktifitas manusia yang melepaskan karbon dioksida ke udara jauh lebih cepat dari kemampuan alam untuk menguranginya.
 
c. CH4(Metan)
          Metana yang merupakan komponen utama gas alam juga termasuk gas rumah kaca. Ia merupakan insulator yang efektif, mampu menangkap panas 20 kali lebih banyak bila dibandingkan karbondioksida. Metana dilepaskan ke atmosfir selama produksi dan transportasi batu bara, gas alam danminyak bumi. Metana juga dihasilkan dari pembusukan limbah organik di tempat pembuangan sampah (landfill), bahkan dapat keluarkan oleh hewan-hewan tertentu, terutama sapi, sebagai produk samping dari pencernaan.
 
d. N2O (Nitrous Oksida)
          Nitrogen oksida adalah gas insulator panas yang sangat kuat. Ia dihasilkan terutama dari pembakaran bahan bakar fosil dan oleh lahan pertanian. Ntrogen oksida dapat menangkap panas 300 kali lebih besar dari karbondioksida.
HFCs (Hydrofluorocarbons), PFCs (Perfluorocarbons) dan SF6 (Sulphur hexafluoride) .
 
          Gas rumah kaca lainnya dihasilkan dari berbagai proses manufaktur. Campuran berflourinasi dihasilan dari peleburan aluminium. HFCs (Hydrofluorocarbons) terbentuk selama manufaktur berbagai produk, termasuk busa untuk insulasi, perabotan (furniture), dan tempat duduk di kendaraan. Lemari pendingin di beberapa negara berkembang masih menggunakan PFCs (Perfluorocarbons) sebagai media pendingin yang selain mampu menahan panas atmosfer juga mengurangi lapisan ozon (lapisan yang melindungi Bumi dari radiasi ultraviolet). Para ilmuan telah lama mengkhawatirkan tentang gas-gas yang dihasilkan dari proses manufaktur akan dapat menyebabkan kerusakan lingkungan. Pada tahun 2000, para ilmuan mengidentifikasi bahan baru yang meningkat secara substansial di atmosfer. Bahan tersebut adalah SF6 (Sulphur hexafluoride).  Konsentrasi gas ini di atmosfer meningkat dengan sangat cepat, yang walaupun masih tergolong langka di atmosfer tetapi gas ini mampu menangkap panas jauh lebih besar dari gas-gas rumah kaca yang telah dikenal sebelumnya. Hingga saat ini sumber industri penghasil gas ini masih belum teridentifikasi.
          Bagaimana Gas Rumah Kaca berperan dalam efek rumah kaca dan merubah iklim bumi? Mekanismenya kurang lebih dapat dijelaskan sebagai berikut: "atmosfer," adalah lapisan dari berbagai macam gas yang menyelimuti bumi, dan merupakan mesin dari sistem iklim secara fisik. Ketika pancaran/radiasi dari matahari yang berupa sinar tampak atau gelombang pendek memasuki atmosfer, beberapa bagian dari sinar tersebut direfleksikan atau dipantulkan kembali oleh awan-awan dan debu-debu yang terdapat di angkasa, sebagian lainnya diteruskan ke arah permukaan daratan. Dari radiasi yang langsung menuju ke permukaan daratan sebagian diserap oleh bumi, tetapi bagian lainnya “dipantulkan” kembali ke angkasa oleh es, salju, air, dan permukaan-permukaan reflektif bumi lainnya. Proses pancaran sinar matahari dari angkasa menembus atmosfer  sampai menuju permukaan bumi hingga dapat kita rasakan suhu bumi menjadi hangat disebut efek rumah kaca. Tanpa ada efek rumah kaca di sistem ikim bumi, maka bumi menjadi tidak layak dihuni karena suhu bumi terlalu rendah (minus).
          Dari penjelasan di atas dapat kita mengerti bagaimana mekanisme terjadinya efek rumah kaca di bumi. Lalu bagaimana keterkaitan antara efek rumah kaca, pemanasan global dan perubahan iklim? Secara sederhana dijelaskan sebagai berikut sinar matahari yang tidak terserap permukaan bumi akan dipantulkan kembali dari permukaan bumi ke angkasa. Sebagaimana telah dijelaskan di atas, sinar tampak adalah gelombang pendek, setelah dipantulkan kembali berubah menjadi gelombang panjang yang berupa energi panas (sinar inframerah), yang kita rasakan. Namun sebagian dari energi panas tersebut tidak dapat menembus kembali atau lolos keluar ke angkasa, karena lapisan gas-gas atmosfer sudah terganggu komposisinya (komposisinya berlebihan). Akibatnya energi panas yang seharusnya lepas keangkasa (stratosfer) menjadi terpancar kembali ke permukaan bumi (troposfer) atau adanya energi panas tambahan kembali lagi ke bumi dalam kurun waktu yang cukup lama, sehingga lebih dari dari kondisi normal, inilah efek rumah kaca berlebihan karena komposisi lapisan gas rumah kaca di atmosfer terganggu, akibatnya memicu naiknya suhu rata-rata dipermukaan bumi maka terjadilah pemanasan global. Karena suhu adalah salah satu parameter dari iklim dengan begitu berpengaruh pada iklim bumi, terjadilah perubahan iklim secara global.
 

Meniran Dapat Membantu Proses Penurunan Berat Badan

(Phylanthus urinaria, Linn.)
Sinonim : Phylanthus alatus, Bl. P. cantonensis, Hornem. P. echinatus, Wall. P. lepidocarpus, Sieb.et Zucc P. leprocarpus, Wight.
Familia : Euphorbiaceae
Morfologi Meniran :
Batang : Berbentuk bulat berbatang basah dengan tinggi kurang dari 50 cm.
Daun : Mempunyai daun yang bersirip genap setiap satu tangkai daun terdiri dari daun majemuk yang mempunyai ukuran kecil dan berbentuk lonjong.
Bunga : Terdapat pada ketiak daun menghadap kearah bawah.
Syarat Tumbuh : Meniran tumbuhan berasal dari daerah tropis yang tumbuh liar di Hutan-hutan, ladang-ladang, Kebun-kebun maupun pekarangan halaman rumah, pada umumnya tidak dipelihara, karena dianggap tumbuhan rumput biasa. Meniran tumbuh subur ditempat yang lembab pada dataran rendah sampai ketinggian 1000 meter di atas permukaan laut.
Nama Lokal : Child pick a back (Inggris), Kilanelli (India), Meniran (Jawa); Zhen chu cao, Ye xia zhu (Cina), Gasau madungi (Ternate);
Meniran dapat digunakan untuk obat Sakit kuning (lever), Malaria, Demam, Ayan, Batuk, Haid lebih, Disentri, Luka bakar, Luka koreng, Jerawat.
Selain itu meniran sangat baik untuk memperbaiki dan memelihara daya tahan tubuh. Dari pengalaman saya bahwa meniran juga dapat membantu didalam proses penurunan berat badan. Ketika itu badan adik saya sangat gemuk sekali dan wajahnya penuh dengan jerawat, sungguh menyedikan dan jelek sekali. Karena berkat ramuan daun meniran akhirnya semua masalah tersebut dapat diatasi.
Caranya :
1. Ambil daun meniran beserta batangnya kurang lebih 10 batang daun meniran, direndam dengan air bersih agar kotoran hilang
2. Ambil kunyit kurang lebih 3 biji, rendam dengan air bersih
3. Setelah meniran dan kunyit telah bersih, masukan kedalam air kurang lebih 4 gelas dan masak sampai mendidih
4. Setelah mendidih angkat dan saring ke dalam wadah dan campurkan dengan perasan satu buah jeruk pecel. Kemudian siap diminum
5. Ulangi sehari 3 kali.
Selamat mencoba.

Persyaratan Air Bersih dan Pengolahannya

Air adalah sangat penting bagi kehidupan manusia. Didalam tubuh manusia itu sendiri sebagian besar terdiri dari air. Kebutuhan manusia akan air sangat kompleks antara lain untuk minum, masak, mandi, mencuci (bermacam-macam cucian) dan sebagainya. Menurut perhitungan WHO, di negara-negara maju tiap orang memerlukan air antara 60-120 liter per hari. Sedangkan di negara-negara berkembang termasuk Indonesia, tiap orang memerlukan air 30-60 liter per hari. Diantara kegunaan-kegunaan air tersebut yang sangat penting adalah kebutuhan untuk minum. Air harus mempunyai persyaratan khusus agar air dapat digunakan untuk kebutuhan manusia terutama dalam memenuhi kebutuhan air bersih. Hendaknya diusahakan memenuhi persyaratan-persyaratan diantara lain sebagai berikut :
Air yang sehat harus mempunyai persyaratan sebagai berikut :
1. Syarat Fisik
Persyaratan fisik untuk air minum yang sehat adalah bening (tak berwarna), tidak berasa, suhu dibawah suhu udara diluarnya sehingga dalam kehidupan sehari-hari. Cara mengenal air yang memenuhi persyaratan fisik ini tidak sukar.
2. Syarat Bakteriologis
Air untuk keperluan minum yang sehat harus bebas dari segala bakteri, terutama bakteri patogen. Cara untuk mengetahui apakah air minum terkontaminasi oleh bakteri patogen adalah dengan memeriksa sampel (contoh) air tersebut. Dan bila dari pemeriksaan 100 cc air terdapat kurang dari 4 bakteri E. coli maka air tersebut sudah memenuhi syarat kesehatan.
3. Syarat Kimia
Air minum yang sehat harus mengandung zat-zat tertentu didalam jumlah yang tertentu pula. Kekurangan atau kelebihan salah satu zat kimia didalam air akan menyebabkan gangguan fisiologis pada manusia. Bahan-bahan atau zat kimia yang terdapat dalam air yang ideal antara lain sebagai berikut :
-------------------------------------------------------------------
Jenis Bahan Kadar yang Dibenarkan (mg/liter)
-------------------------------------------------------------------
Fluor (F) 1-1,5
Chlor (Cl) 250
Arsen (As) 0,05
Tembaga (Cu) 1,0
Besi (Fe) 0,3
Zat organik 10
Ph (keasaman) 6,5-9,0
CO2 0
-------------------------------------------------------------------
Sesuai dengan prinsip teknologi tepat guna di pedesaan maka air minum yang berasal dari mata air dan sumur dalam adalah dapat diterima sebagai air yang sehat dan memenuhi ketiga persyaratan tersebut diatas asalkan tidak tercemar oleh kotoran-kotoran terutama kotoran manusia dan binatang. Oleh karena itu mata air atau sumur yang ada di pedesaan harus mendapatkan pengawasan dan perlindungan agar tidak dicemari oleh penduduk yang menggunakan air tersebut.
Sumber-Sumber Air Minum
1. Air Hujan
Air hujan dapat ditampung kemudian dijadikan air minum. Tetapi air hujan ini tidak mengandung kalsium. Oleh karena itu agar dapat dijadikan air minum yang sehat perlu ditambahkan kalsium didalamnya.
2. Air Sungai dan Danau
Menurut asalnya sebagian dari air sungai dan air danau ini juga dari air hujan yang mengalir melalui saluran-saluran ke dalam sungai atau danau ini. Kedua sumber air ini sering juga disebut air permukaan. Oleh karena air sungai dan danau ini sudah terkontaminasi atau tercemar oleh berbagai macam kotoran maka bila akan dijadikan air minum harus diolah terlebih dahulu.
3. Mata Air
Air yang keluar dari mata air ini berasal dari air tanah yang muncul secara alamiah. Oleh karena itu air dari mata air ini bila belum tercemar oleh kotoran sudah dapat dijadikan air minum langsung. Tetapi karena kita belum yakin apakah betul belum tercemar maka alangkah baiknya air tersebut direbus dahulu sebelum diminum.
4. Air Sumur Dangkal
Air ini keluar dari dalam tanah maka juga disebut air tanah. Air berasal dari lapisan air didalam tanah yang dangkal. Dalamnya lapisan air ini dari permukaan tanah dari tempat yang satu ke yang lain berbeda-beda. Biasanya berkisar antara 5 sampai dengan 15 meter dari permukaan tanah. Air sumur pompa dangkal ini belum begitu sehat karena kontaminasi kotoran dari permukaan tanah masih ada. Oleh karena itu perlu direbus dahulu sebelum diminum.
5. Air Sumur Dalam
Air ini berasal dari lapisan air kedua didalam tanah. Dalamnya dari permukaan tanah biasanya diatas 15 meter. Oleh karena itu sebagaian besar air sumur dalam ini sudah cukup sehat untuk dijadikan air minum yang langsung (tanpa melalui proses pengolahan).
Pengolahan Air Minum Secara Sederhana
Seperti telah disebutkan didalam uraian terdahulu bahwa air minum yang sehat harus memenuhi persyaratan-persyaratan tertentu. Sumber-sumber air minum pada umumnya dan di daerah pedesaan khususnya tidak terlindung (protected) sehingga air tersebut tidak atau kurang memenuhi persyaratan kesehatan. Untuk itu perlu pengolahan terlebih dahulu.
Ada beberapa cara pengolahan air minum antara lain sebagai berikut :
1. Pengolahan Secara Alamiah
Pengolahan ini dilakukan dalam bentuk penyimpanan (storage) dari air yang diperoleh dari berbagai macam sumber, seperti air danau, air kali, air sumur dan sebagainya. Didalam penyimpanan ini air dibiarkan untuk beberapa jam di tempatnya. Kemudian akan terjadi koagulasi dari zat-zat yang terdapat didalam air dan akhirnya terbentuk endapan. Air akan menjadi jernih karena partikel-partikel yang ada dalam air akan ikut mengendap.
Penyimpanan → dibiarkan bbrapa jam → Terjadi koagulasi → Endapan → Menjadi Jernih
2. Pengolahan Air dengan Menyaring
Penyaringan air secara sederhana dapat dilakukan dengan kerikil, ijuk dan pasir. Lebih lanjut akan diuraikan kemudian. Penyaringan pasir dengan teknologi tinggi dilakukan oleh PAM (Perusahaan Air Minum) yang hasilnya dapat dikonsumsi umum.
3. Pengolahan Air dengan Menambahkan Zat Kimia
Zat kimia yang digunakan dapat berupa 2 macam yakni zat kimia yang berfungsi untuk koagulasi dan akhirnya mempercepat pengendapan (misalnya tawas). Zat kimia yang kedua adalah berfungsi untuk menyucihamakan (membunuh bibit penyakit yang ada didalam air, misalnya chlor).
4. Pengolahan Air dengan Mengalirkan Udara
Tujuan utamanya adalah untuk menghilangkan rasa serta bau yang tidak enak, menghilangkan gas-gas yang tak diperlukan, misalnya CO2 dan juga menaikkan derajat keasaman air.
5. Pengolahan Air dengan Memanaskan Sampai Mendidih
Tujuannya untuk membunuh kuman-kuman yang terdapat pada air. Pengolahan semacam ini lebih tepat hanya untuk konsumsi kecil misalnya untuk kebutuhan rumah tangga. Dilihat dari konsumennya, pengolahan air pada prinsipnya dapat digolongkan menjadi 2 yakni
Pengolahan Air Minum untuk Umum
Penampungan Air Hujan
Air hujan dapat ditampung didalam suatu dam (danau buatan) yang dibangun berdasarkan partisipasi masyarakat setempat. Semua air hujan dialirkan ke danau tersebut melalui alur-alur air. Kemudian disekitar danau tersebut dibuat sumur pompa atau sumur gali untuk umum. Air hujan juga dapat ditampung dengan bak-bak ferosemen dan disekitarnya dibangun atap-atap untuk mengumpulkan air hujan. Di sekitar bak tersebut dibuat saluran-saluran keluar untuk pengambilan air untuk umum.
Air hujan baik yang berasal dari sumur (danau) dan bak penampungan tersebut secara bakteriologik belum terjamin untuk itu maka kewajiban keluarga-keluarga untuk memasaknya sendiri misalnya dengan merebus air tersebut.
b. Pengolahan Air Sungai
Air sungai dialirkan ke dalam suatu bak penampung I melalui saringan kasar yang dapat memisahkan benda-benda padat dalam partikel besar. Bak penampung I tadi diberi saringan yang terdiri dari ijuk, pasir, kerikil dan sebagainya. Kemudian air dialirkan ke bak penampung II. Disini dibubuhkan tawas dan chlor. Dari sini baru dialirkan ke penduduk atau diambil penduduk sendiri langsung ke tempat itu. Agar bebas dari bakteri bila air akan diminum masih memerlukan direbus terlebih dahulu.
c. Pengolahan Mata Air
Mata air yang secara alamiah timbul di desa-desa perlu dikelola dengan melindungi sumber mata air tersebut agar tidak tercemar oleh kotoran. Dari sini air tersebut dapat dialirkan ke rumah-rumah penduduk melalui pipa-pipa bambu atau penduduk dapat langsung mengambilnya sendiri ke sumber yang sudah terlindungi tersebut.
2. Pengolahan Air Untuk Rumah Tangga
a. Air Sumur
Air sumur pompa terutama air sumur pompa dalam sudah cukup memenuhi persyaratan kesehatan. Tetapi sumur pompa ini di daerah pedesaan masih mahal, disamping itu teknologi masih dianggap tinggi untuk masyarakat pedesaan. Yang lebih umum di daerah pedesaan adalah sumur gali.
Agar air sumur pompa gali ini tidak tercemar oleh kotoran di sekitarnya, perlu adanya syarat-syarat sebagai berikut :
- Harus ada bibir sumur agar bila musim hujan tiba, air tanah tidak akan masuk ke
dalamnya.
- Pada bagian atas kurang lebih 3 m dari permukaan tanah harus ditembok, agar
air dari atas tidak dapat mengotori air sumur.
- Perlu diberi lapisan kerikil di bagian bawah sumur tersebut untuk mengurangi kekeruhan.

Sebagai pengganti kerikil, ke dalam sumur ini dapat dimasukkan suatu zat yang dapat membentuk endapan, misalnya aluminium sulfat (tawas).
Membersihkan air sumur yang keruh ini dapat dilakukan dengan menyaringnya dengan saringan yang dapat dibuat sendiri dari kaleng bekas.

b. Air Hujan
Kebutuhan rumah tangga akan air dapat pula dilakukan melalui penampungan air hujan. Tiap-tiap keluarga dapat melakukan penampungan air hujan dari atapnya masing-masing melalui aliran talang. Pada musim hujan hal ini tidak menjadi masalah tetapi pada musim kemarau mungkin menjadi masalah. Untuk mengatasi keluarga memerlukan tempat penampungan air hujan yang lebih besar agar mempunyai tandon (storage) untuk musim kemarau.

Gangguan Kesehatan Pada Gizi Kurang dan Lebih

Konsumsi gizi makanan pada seseorang dapat menentukan tercapainya tingkat kesehatan atau sering disebut status gizi. Apabila tubuh berada dalam tingkat kesehatan gizi optimum dimana jaringan jenuh oleh semua zat gizi maka disebut status gizi optimum. Dalam kondisi demikian tubuh terbebas dari penyakit dan mempunyai daya tahan yang setinggi-tingginya. Apabila konsumsi gizi makanan pada seseorang tidak seimbang dengan kebutuhan tubuh maka akan terjadi kesalahan akibat gizi (malnutrition). Malnutrisi ini mencakup kelebihan nutrisi /gizi disebut gizi lebih (overnutrition) dan kekurangan gizi atau gizi kurang (undernutrition). Penyakit-penyakit atau gangguan-gangguan kesehatan akibat dari kelebihan atau kekurangan zat gizi dan yang telah merupakan masalah kesehatan masyarakat, khususnya di Indonesia, antara lain sebagai berikut :
1. Penyakit Kurang Kalori dan Protein (KKP)
Penyakit ini terjadi karena ketidakseimbangan antara konsumsi kalori atau karbohidrat dan protein dengan kebutuhan energi atau terjadinya defisiensi atau defisit energi dan protein. Pada umumnya penyakit ini terjadi pada anak balita karena pada umur tersebut anak mengalami pertumbuhan yang pesat. Apabila konsumsi makanan tidak seimbang dengan kebutuhan kalori maka akan terjadi defisiensi tersebut (kurang kalori dan protein).
Penyakit ini dibagi dalam tingkat-tingkat, yakni :
a. KKP ringan, kalau berat badan anak mencapai 84-95 % dari berat badan menurut
standar Harvard.
b. KKP sedang, kalau berat badan anak hanya mencapai 44-60 % dari berat badan
menurut standar Harvard.
c. KKP berat (gizi buruk), kalau berat badan anak kurang dari 60% dari berat badan
menurut standar Harvard.
Beberapa ahli hanya membedakan antara 2 macam KKP saja, yakni KKP ringan atau gizi kurang dan KKP berat (gizi buruk) atau lebih sering disebut marasmus (kwashiorkor). Anak atau penderita marasmus ini tampak sangat kurus, berat badan kurang dari 60% dari berat badan ideal menurut umur, muka berkerut seperti orang tua, apatis terhadap sekitarnya, rambut kepala halus dan jarang berwarna kemerahan. Penyakit KKP pada orang dewasa memberikan tanda-tanda klinis : oedema atau honger oedema (HO) atau juga disebut penyakit kurang makan, kelaparan atau busung lapar. Oedema pada penderita biasanya tampak pada daerah kaki.
2. Penyakit Kegemukan (Obesitas)
Penyakit ini terjadi ketidakseimbangan antara konsumsi kalori dan kebutuhan energi, yakni konsumsi kalori terlalu berlebih dibandingkan dengan kebutuhan atau pemakaian energi. Kelebihan energi di dalam tubuh ini disimpan dalam bentuk lemak. Pada keadaan normal, jaringan lemak ini ditimbun di tempat-tempat tertentu diantaranya dalam jaringan subkutan dan didalam jaringan tirai usus. Seseorang dikatakan menderita obesitas bila berat badannya pada laki-laki melebihi 15% dan pada wanita melebihi 20% dari berat badan ideal menurut umurnya. Pada orang yang menderita obesitas ini organ-organ tubuhnya dipaksa untuk bekerja lebih berat karena harus membawa kelebihan berat badan. Oleh sebab itu pada umumnya lebih cepat gerah, capai dan mempunyai kecenderungan untuk membuat kekeliruan dalam bekerja. Akibat dari penyakit obesitas ini, para penderitanya cenderung menderita penyakit-penyakit kardiovaskuler, hipertensi, dan diabetes melitus.
Berat badan yang ideal pada orang dewasa menurut rumus Dubois ialah :
B (kg) = (Tcm - 10) + 10%, dengan :
B = Berat badan hasil perkiraan / pengukuran
T = Tinggi badan
Oleh Bagian Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dilakukan koreksi sebagai berikut : B (kg) = {(Tcm - 100) - 10%} + 10%
Contoh :
Si Ali (Dewasa) diukur tinggi badannya 160 centimeter maka berat badan Ali yang ideal adalah antara 54 kilogram dengan 66 kilogram (paling rendah 54 kilogram dan paling tinggi 66 kilogram). Apabila orang dewasa yang tinggi badannya 160 cm dengan berat badan dibawah 54 kg maka ia kurang gizi dan bila lebih dari 66 kg, ia termasuk obesitas (kegemukan).
3. Anemia (Penyakit Kurang Darah)
Penyakit terjadi karena konsumsi zat besi (Fe) pada tubuh tidak seimbang atau kurang dari kebutuhan tubuh. Zat besi merupakan mikro elemen yang esensial bagi tubuh yang sangat diperlukan dalam pembentukan darah, yakni dalam hemoglobin (Hb). Disamping itu Fe juga diperlukan enzim sebagai penggiat. Zat besi (Fe) lebih mudah diserap oleh usus halus dalam bentuk ferro. Penyerapan ini mempunyai mekanisme autoregulasi yang diatur oleh kadar ferritin yang terdapat dalam sel-sel mukosa usus. Dalam kondisi Fe yang baik, hanya sekitar 10% saja dari Fe yang terdapat di dalam makanan diserap ke dalam mukosa usus.
Ekskresi Fe dilakukan melalui kulit, didalam bagian-bagian tubuh yang aus dan dilepaskan oleh permukaan tubuh yang jumlahnya sangat kecil sekali. Sedangkan pada wanita ekskresi Fe lebih banyak melalui menstruasi. Oleh sebab itu kebutuhan Fe pada wanita dewasa lebih banyak dibandingkan dengan pada pria. Pada wanita hamil kebutuhan Fe meningkat karena bayi yang dikandung juga memerlukan Fe ini. Defisiensi Fe atau anemia besi di Indonesia jumlahnya besar sehingga sudah menjadi masalah kesehatan masyarakat. Program penanggulangan anemia besi, khususnya untuk ibu hamil sudah dilakukan melalui pemberian Fe secara cuma-cuma melalui puskesmas atau posyandu. Akan tetapi karena masih rendahnya pengetahuan sebagian besar ibu-ibu hamil maka program ini tampak berjalan lambat.
4. Xerophthalmia (Defisiensi Vitamin A)
Penyakit ini disebabkan karena kekurangan konsumsi vitamin A didalam tubuh. Gejala-gejala penyakit ini adalah kekeringan epitel biji mata dan kornea karena glandula lakrimalis menurun. Terlihat selaput bola mata keriput dan kusam bila biji mata bergerak. Fungsi mata berkurang menjadi hemeralopia atau noctalmia yang oleh awam disebut buta senja atau buta ayam, tidak sanggup melihat pada cahaya remang-remang. Pada stadium lanjut maka mengoreng karena sel-selnya menjadi lunak yang disebut keratomalasia dan dapat menimbulkan kebutaan. Fungsi vitamin A sebenarnya mencakup 3 fungsi yakni fungsi dalam proses melihat, dalam proses metabolisme, dan proses reproduksi. Gangguan yang diakibatkan karena kekurangan vitamin A yang menonjol, khususnya di Indonesia adalah gangguan dalam proses melihat yang disebut xerophthalmia ini. Oleh sebab itu penanggulangan defisiensi kekurangan vitamin A yang penting disini ditujukan kepada pencegahan kebutaan pada anak balita. Program penanggulangan xerophthalmia ditujukan pada anak balita dengan pemberian vitamin A secara cuma-cuma melalui puskesmas dan / atau posyandu. Disamping itu program pencegahan dapat dilakukan melalui penyuluhan gizi masyarakat tentang makanan-makanan sebagai sumber vitamin.
5. Penyakit Gondok Endemik
Zat iodium merupakan zat gizi esensial bagi tubuh karena merupakan komponen dari hormon thyroxin. Zat iodium ini dikonsentrasikan didalam kelenjar gondok (glandula thyroidea) yang diperlukan dalam sintesa hormon thyroxin. Hormon ini ditimbun dalam folikel kelenjar gondok, terkonjugasi dengan protein (globulin) maka disebut thyroglobulin. Apabila diperlukan, thyroglobulin ini dipecah dan terlepas hormon thyroxin yang dikeluarkan dari folikel kelenjar ke dalam aliran darah.
Kekurangan zat iodium ini berakibat kondisi hypothyroidisme (kekurangan iodium) dan tubuh mencoba untuk mengkompensasi dengan menambah jaringan kelenjar gondok. Akibatnya terjadi hypertrophi (membesarnya kelenjar thyroid) yang kemudian disebut penyakit gondok.
Apabila kelebihan zat iodium maka akan mengakibatkan gejala-gejala pada kulit yang disebut iodium dermatitis. Penyakit gondok ini di Indonesia merupakan endemik terutama di daerah-daerah terpencil di pegunungan yang air minumnya kekurangan zat iodium. Oleh sebab itu penyakit kekurangan iodium ini disebut gondok endemik.
Kekurangan iodium juga dapat menyebabkan gangguan kesehatan lain, yaitu cretinisma. Kretinisma adalah suatu kondisi penderita dengan tinggi badan dibawah normal (cebol). Kondisi ini disertai berbagai tingkat keterlambatan perkembangan jiwa dan kecerdasan, dari hambatan ringan sampai dengan sangat berat (debil). Ekspresi muka seorang cretin ini memberikan kesan orang bodoh karena tingkat kecerdasannya sangat rendah. Pada umumnya orang cretin ini dilahirkan dari ibu yang sewaktu hamil kekurangan zat iodium.
Terapi penyakit ini pada penderita dewasa pada umumnya tidak memuaskan. Oleh sebab itu penanggulangan yang paling baik adalah pencegahan yaitu dengan memberikan dosis iodium kepada ibu hamil. Untuk penanggulangan penyakit akibat kekurangan iodium dalam rangka peningkatan kesehatan masyarakat dapat dilakukan melalui program iodiumisasi, yaitu dengan penyediaan garam dapur yang diperkaya dengan iodium. Dalam kaitan ini pemerintah Indonesia melalui Departemen Perindustrian telah memproduksi khusus garam iodium untuk daerah-daerah endemik gondok.

Wednesday, February 8, 2012

Memberantas Tikus

Tikus merupakan hama penting yang menimbulkan kerugian bagi tanaman pertanian baik dilapangan maupun hasil pertanian dalam penyimpanan. Jenis tanaman yang sering mendapat serangan hama tikus adalah padi, jagung, kedelai, kacang tanah dan ubi-ubian.Jenis tikus yang banyak menimbulkan kerugian adalah Rattus Argentiventer (tikus sawah) dan Rattus diardi yang menimbulkan kerusakan hasil dalam simpanan.
Perkembangbiakan tikus sangat cepat, umur 1,5 - 5 bulan sudah dapat berkembangbiak, setelah hamil 21 hari, setiap ekor dapat melahirkan 6-8 ekor anak, 21 hari kemudian pisah dari induknya dan setiap tahun seekor tikus dapat melahirkan 4 kali.
Tikus suka hidup ditempat gelap yang bersemak-semak dari banyak rerumputan didekat sumber makanan.
Dalam pengendalian hama tikus kita menganut konsep pengendalian hama terpadu yaitu sistem pengendalian populasi yang memanfaatkan secara terpadu untuk menurunkan populasi dan mempertahankannya dibawah batas ambang ekonomi.
Untuk memperoleh hasil yang baik dalam pengendalian hama tikus perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut:
• Perlu pengorganisasian yang baik
• Meliputi daerah yang luas
• Dilaksanakan secara massal
• Serentak
• Berulangkali dilakukan sampai populasi dibawah batas yang menyebabkan kerugian ekonomis
• Perlu disesuaikan dengan keadaan serangan dan phase pertumbuhan tanaman

CARA- CARA YANG DILAKSANAKAN DALAM PENGENDALIAN HAMA TIKUS
• Sanitasi Tanaman dan Lingkungan yaitu membersihkan semak-semak dan rerumputan, membongkar liang dan sarang serta tempat perlindungan lainnya.
• Mekanis
Meliputi semua cara pengendalian yang secara langsung membunuh tikus dengan pukulan, diburu anjing, menggunakan perangkap dsb.
Cara ini akan berhasil bila diorganisir dengan baik dan dilakasanakan serentak, sebagai contoh adalah pemasangan perangkap dengan menggunakan bambu dengan panjang antar 1,5 - 2 meter yang salah satu ujungnya dibiarkan tertutup dan ujung lainnya dilubangi.
Pemasangan dilakukan sore hari ditempat yang biasa dilalui tikus didekat pamatang diharapkan tikus akan masuk lubang dan sembunyi, dan pagi diambil dengan terlebih dahulu ujung yang terbuka dimasukkan karung/plastik, kemudian tikus yang ada dibunuh.
• Mengatur waktu tanam
Dengan mengatur waktu tanam, maka waktu tersedianya makanan yang disukai tikus terbatas.
• Pengendalian Biologis
Dengan memanfaatkan musuh alami (predator) yang menghambat populasi tikus seperti ular, kucing dll.
• Penggunaan bahan kimia
Bahan kimia yang digunakan biasanya adalah Rodentisida seperti Klerat RM dll yang ada dipasaran dan gas beracun (belerang).
Rodentisida digunakan dengan umpan yang disukai tikus seperti: beras, jagung, ubi kayu dn ubi jalar. Umpan beracun ada 2 jenis, yaitu yang siap pakai seperti; Klerat RM dan Umpan yang dibuat sendiri (umpan + Zink Phosfit).Racun yang dipakai juga ada 2 jenis yaitu:
• Racun akut yang bekerja cepat, tikus mati 3-14 jam sesudah peracunan, namun dapat menimbulkan jera umpan, contoh zink phosfit. Perbandingan umpan dan racun 99:1
Dosis penggunaan 10-20 gram umpan/raun per tempat umpan
• Racun kronis yang bekerjanya lambat, namun tidak menimbulkan jera umpan. Tikus akan mati 2 -14 hari setelah peracunan. Perbandingan umpan racun 19:1.
Contoh: Klerat RM dosis penggunaan 10-40 per tempat umpan.
Untuk melindungi umpan dari hujan dan tidak termakan hewan ternak, perlu digunakan tempat umpan yang diletakkan ditepi pematang dekat liang tikus dengan jarak masing-masing tempat 25 meter, dan masing-masing tempat diberi 10-20 gram umpan.
• Penggunaan gas beracun
Penggunaan gas beracun akan efektif bila padi dalam stadium bunting dengan menggunakan dioksida belerang yang dihasilkan dengan membakar merang yang telah diberi serbuk belerang didalam alat emposan.
Asap dan gas yang keluar dihembuskan kedlam liang tikus pada pematang sawah. Sebelumnya lubang-lubang keluar ditutup terlebih dahulu.
Jadi dengan pengendalian hama tikus melalui berbagai cara yang dilaksanakan secara terpadu, ini diharapkan dapat menekan populasi tikus dilapangan dibawah ambang batas ekonomi yang tidak merugikan bagi petani