Saturday, February 18, 2012

Manfaat Mentimun Untuk Menghilangkan Lingkaran Hitam Pada Mata

Lingkaran hitam di bawah mata memang menjadi problem sebagian besar cewek untuk tampil cantik. Hal ini disebabkan oleh beberapa macam faktor, seperti kurang tidur, kelelahan atau penat dengan tugas menumpuk yang berakibat menimbulkan stress. Begitu pula bila terserang penyakit serta kekurangan nutrisi dan pola diet yang terlalu ketat. Namun tidak perlu bingung untuk mengatasi hal tersebut, karena dari beberapa penelitian ada jenis sayuran yang dapat mengatasi lingkaran hitam pada mata antara lain adalah Mentimun. Mentimun atau timun sering dijadikan sebagai kudapan. Ternyata, jenis sayuran ini memiliki khasiat yang bagus untuk kulit.
Berikut lima rahasia manfaat timun, seperti yang dikutip dari Leons Beauty Tips and Secrets.
1. Mentimun Dapat mengurangi lingkar hitam di bawah mata. Timun memiliki kemampuan yang cepat, mudah dan aman untuk membantu mengurangi lingkar hitam di bawah mata. Kandungan antioksidan dan silika dari timun akan membuat bagian mata menjadi lembut dan mulus. Letakkan potongan timun pada mata dan diamkan selama 10-15 menit. Selain untuk mengurangi lingkaran hitam manfaat timun juga sebagai berikut :
2. Menghilangkan bengkak pada mata. Mata yang bengkak bisa disebabkan karena kurang tidur, kebanyakan tidur, menangis atau kelelahan. Timun dapat dengan mudah menghilangkan masalah ini. Timun memiliki kandungan asam askorbik yang tinggi, sehingga dapat menurunkan kadar air dan bengkak pada mata. Letakkan mentimun di kedua mata, lalu pejamkan mata Anda selama 15 menit.
3. Mengurangi noda hitam pada wajah. Timun akan mengurangi noda hitam dan kerut pada wajah. Anda bisa meletakkan potongan timun pada wajah atau bisa juga memblender timun dan di letakkan jus pada wajah. Rasakan hasilnya, wajah akan lebih berkilau, lembut dan mulus.
4. Merawat Kulit yang terbakar sinar matahari. Kulit yang terbakar matahari bisa disembuhkan dengan meletakkan timun di area kulit yang terbakar. Timun memiliki efek dingin dan dengan cara lembut menenangkan kulit, serta mempercepat proses penyembuhan.
5. Mengecilkan pori-pori. Mentimun merupakan toner yang sangat baik. Anda dapat mencampurnya dengan cuka apel, putih telur dan tomat. Bahan-bahan tersebut jika dihaluskan dan diterapkan pada wajah akan membuat pori-pori kulit lebih mengecil. Diamkan masker tersebut selama 10 menit, lalu bilas wajah sampai bersih.
6. Mentimun juga dapat membuat bola mata menjadi bening.
Selamat mencoba

Tips Sederhana Menjaga Wajah Tetap Segar Berseri

Sebagai seorang wanita sangat mengharapkan mempunyai wajah yang selalu cantik, menawan dan selalu terlihat segar berseri. Banyak produk-produk yang sekarang ini ditawarkan untuk memenuhi kebutuhan tersebut, jika kita tidak pandai-pandai dalam memilih produk yang sesuai dengan kesehatan kulit wajah kita bukannya cantik malah menjadi tidak karuan tuh wajah.
Bahan-bahan alamiah yang diproses dengan cara alami akan lebih sehat untuk kulit wajah kita. Adapun cara yang paling sederhana untuk menjaga wajah tetap cantik dan segar berseri, diantara nya sebagai berikut :
1. Setiap bangun tidur usahakan untuk mengkonsumsi air putih hangat sedikitnya satu gelas.
2. Kurangi makan-makanan yang banyak mengandung minyak goreng (goreng-gorengan)dan kurangi juga makan-makanan yang banyak mengandung gula.
3. Gunakan sabun pencuci muka yang sesuai dengan jenis kulit wajah (tidak perlu mahal yang penting sesuai dengan kulit wajah kita)
4. Gunakan penyegar wajah minimal sehari 5 s/d 6 kali (pilih penyegar yang sesuai dengan kulit wajah)
5. Gunakan pelembab pada pagi dan siang hari
6. Kurangi pemakaian bedak (bedak hanya digunakan ketika berpergian)
7. Pakai masker seminggu sekali dengan bahan alami, misalnya campuran susu dengan madu akan membuat wajah akan terlihat putih berseri dan kencang, dll.
Lakukan hal diatas secara rutin dan buktikan hasilnya, wajah akan terlihat lebih cantik dan segar berseri serta bebas dari masalah jerawat.

Friday, February 17, 2012

Konstruksi Pembuangan Limbah Rumah Tangga Sederhana

Limbah rumah tangga adalah limbah yang berasal dari dapur, kamar mandi, cucian, limbah bekas industri rumah tangga dan kotoranmanusia. Limbah merupakan buangan/bekas yang berbentuk cair, gas dan padat. Dalam air limbah terdapat bahan kimia sukar untuk dihilangkan dan berbahaya. Bahan kimia tersebut dapat memberi kehidupan bagi kuman-kuman penyebab penyakit disentri, tipus, kolera dsb. Air limbah tersebut harus diolah agar tidak mencemari dan tidak membahayakan kesehatan lingkungan. Air limbah harus dikelola untuk mengurangi pencemaran.
Pengelolaan air limbah dapat dilakukan dengan membuat saluran air kotor dan bak peresapan dengan memperhatikan ketentuan sebagai berikut ;
1. Tidak mencemari sumber air minum yang ada di daerah sekitarnya baik air dipermukaan tanah maupun air di bawah permukaan tanah.
2. Tidak mengotori permukaan tanah.
3. Menghindari tersebarnya cacing tambang pada permukaan tanah.
4. Mencegah berkembang biaknya lalat dan serangga lain.
5. Tidak menimbulkan bau yang mengganggu.
6. Konstruksi agar dibuat secara sederhana dengan bahan yang mudah didapat dan murah.
7. Jarak minimal antara sumber air dengan bak resapan 10 m.
Pengelolaan yang paling sederhana ialah pengelolaan dengan menggunakan pasir dan benda-benda terapung melalui bak penangkap pasir dan saringan. Benda yang melayang dapat dihilangkan oleh bak pengendap yang dibuat khusus untuk menghilangkan minyak dan lemak. Lumpur dari bak pengendap pertama dibuat stabil dalam bak pembusukan lumpur, di mana lumpur menjadi semakin pekat dan stabil, kemudian dikeringkan dan dibuang. Pengelolaan sekunder dibuat untuk menghilangkan zat organik melalui oksidasi dengan menggunakan saringan khusus. Pengelolaan secara tersier hanya untuk membersihkan saja. Cara pengelolaan yang digunakan tergantung keadaan setempat, seperti sinar matahari, suhu yang tinggi di daerah tropis yang dapat dimanfaatkan.
Limbah air bekas mandi dan cuci dialirkan ke bak kontrol dan langsung ke sumur resapan. Air akan tersaring pada bak resapan dan air yang keluar dari bak resapan sudah bebas dari pencemaran.
• BAHAN
1. Besi beton ½-25 cm
2. Batu bata
3. Kerikil
4. Semen
5. Pasir
• PERALATAN
1. Gergaji
2. Cetok
3. Cangkul
4. Skop
5. Parang
6. Ember
7. Besi runcing
8. Meteran
• PEMBUATAN
Tempat mandi dan cuci dibuat dari batu bata, campuran semen dan pasir. Bak kontrol dibuat terutama untuk saluran yang berbelok, karena pada saluran berbelok lama-lama terjadi pengikisan ke samping sedikit demi sedikit, dan akan terjadi suatu pengendapan kotoran. Dibuat juga sumur resapan yang terbuat dari susunan batu bata kosong yang diberi kerikil dan lapisan ijuk.
Sumur resapan diberi kerikil dan pasir. Jarak antara sumur air bersih ke sumur resapan minimum 10 m agar supaya jangan mencemarinya. Pembuatan dapat dilihat pada Gambar 1 dan 2 di bawah ini.




• Gambar 2. Bak Saluran Bekas Mandi dan Cuci.
Saluran air bekas mandi dan cuci :
A : Kamar mandi dan cuci
B : Bak kontrol
C : Bak resapan
• PENGGUNAAN
1. Untuk membuang air cucian
2. Untuk membuang air bekas mandi
3. Untuk membuang air kotor/bekas lainnya.
• PEMELIHARAAN
1. Saluran setiap hari perlu dibersihkan dengan memakai sapu, atau alat lain.
2. Jangan membuang benda-benda padat seperti : batu kerikil, kertas, kain, plastik dan barang-barang lainnya
3. Semua resapan perlu sering dikontrol, agar bagian-bagian yang tersumbat dibersihkan.
• KEUNTUNGAN
Pembuatannya mudah, bahan-bahan ada disekitar kita dan konstruksinya sederhana.
• KERUGIAN
Pembuangan air kotor ini juga tergantung dari struktur lapisan tanah. Tanah yang liat pada musim kemarau akan bongkah-bongkah hal ini mungkin berpengaruh pada sumber air bersih. Untuk mengatasi hal ini agar jaraknya perlu lebih diperpanjang lagi.
Catatan lain-lain :
Secara rutin perlu dikontrol apakah ada yang rusak atau tidak.
• DAFTAR PUSTAKA
Pembuatan Saluran Bekas Mandi dan Cuci. Jakarta : Direktorat Perummahan, Ditjen Cipta Karya-Departemen Pekerjaan Umum.

Wednesday, February 15, 2012

Manfaat Daun Pisang Kering (Kleres)

apakah anda mengetahui daun pisang yang telah kering atau disebut dengan kleres. daun pisang kering ini mungkin difikiran anda hanya dapat digunakan sebagai keterampilan saja misalnya membuat tas atau pigora, atau bahkan anda tidak ingin memanfaatkan untuk apapun karena bahan tersebut bisa dikatakan sebagai sampah yang tidak dapat dimanfaatkan lagi. ternyata daun pisang atau kleres dapat digunakan sebagai bahan pewarna makanan yang menghasilkan warna hitam atau abu-abu pada makanan. adapun resep makanan dari kleres selain rasanya yang gurih juga pembuatannya sangat mudah.
resep :
1. 5 helai Daun pisang yang telah kering (kleres)
2. 1 buah kelapa mudah
3. 1kg ketela pohon
4. 1/2 kg gula pasir
5. 4 sendok makan enjet atau air kapur
6. 3 helai dau pandan dipotong dadu kecil-kecil
7. 1 sendok teh garam
8. 3 helai daun pisang yang mudah dipotong persegi untuk pembungkus adonan
cara membuat:
1. bakar daun pisang yang telah kering kemudian ditumbuk halus dan saring ke dalam ayakan
2. parut kelapa mudah
3. parut ketela pohon, hasil parutan ketela pohon dicampur dengan ayakan daun pisang yang telah dibakar tadi kemudian aduk hingga rata sehingga adonan menjadi warna hitam. lalu campur dengan gula pasir, air kapur, garam dan aduk hingga merata. Setelah semua tercampur ambil setengah dr parutan kelapa mudah dan aduk hingga rata.
4. ambil sebanyak dua sendok makan adonan tadi dan letakan pada daun pisang yang telang dipotong persegi, diatas adonan sebelum dibungkus beri potongan daun pandan. kemudian dibungkus dan diberi lidih agar tidak terbuka. ulangi untuk adonan berikutnya
5. kemudian kukus didalam dandang kurang lebih 1 jam
6. setelah harum dan matang angkat dan buka dr kulit pisang td, tata dan taruh di atas piring kemudian taburi dengan parutan kelapa.
7. sajikan ketika masih hangat.
selamat mencoba

Monday, February 13, 2012

Filariasis

Imagine having your legs and genital organs puff up to roughly the size of elephant limbs. Now imagine having to attend to your daily activities while attempting to move your huge and swollen body parts. This is a type of disease that actually does happen to people.
Filariasis, also known as lympathic filariasis (LF), is most common in tropical countries and is caused by parasitic nematode worms that look like tiny threads. The infection caused by these filarial worms, Wuchereria bancrofti, Brugia malayi and Brugia timori, are transmitted by mosquitos. Fortunately, this infectious disease is very rare in Western countries.
Lymphatic filariasis has existed for a long time. Reports of the disease have been documented in ancient Greek literature, and its symptoms were first recorded in the 16th century, during early explorations of Goa, Asia and Africa. It was only in later centuries when a better understanding of filariasis was developed, pinpointing mosquitoes are carriers of the worms.
According to the World Health Organization (WHO), as of 2006, there has been an estimated 1.3 billion people in more than 80 countries at risk of contracting LF. At present, there are over 120 million infected individuals, and over 40 million of them have been disfigured and severely debilitated by the disease. Affected people mostly live in India, Africa, South Asia, the Pacific, and South and Central America.
LF is considered the highest among the world’s diseases that cause severe disability and disfiguration. It mostly strikes poor portions of the population in areas where there are great numbers of breeding sites for mosquitoes that carry the disease.
Lymphatic Filariasis starts from the bite of an infected mosquito, or when a person comes into contact with water where infected mosquitoes breed. The parasitic worms that are transferred to humans burrow into the lymphatic system, the body’s network of vessels and nodes which carry lymph fluid to the tissues and blood. The lympathic system forms a major part of our body’s immune system.
Adult worms will live in the lympathic vessels for 4 to 6 years, and the females can produce a large number of larvae (microfilariae) which travel around in the bloodstream. The infection can be spread when a mosquito that has bitten an infested person. The mosquito then becomes a carrier of microfilaria which will develop into an infective parasite and be transmitted once the mosquito bites other people. In the endemic areas where the disease is concentrated, it is estimated that 54% of the population are infected by microfilariae.
Although it is not fatal, filariasis is chronic and very painful. The disease causes an accumulation of fluid (hydrocoele); swelling (lymphoedema) of the subcutaneous layer of the skin which houses fat and connective tissues; passing of cloudy-colored urine (chyluria), and in its most extreme form, the skin and underlying tissues of the lower limbs and scrotum thicken and become distended, taking on the resemblance of elephant limbs and earning it the name, elephantiasis.
The inflammation that starts within the skin is usually caused by the immune system’s reaction to the parasite. It can also be caused by bacteria which may have invaded the skin because of an already weakened immune system. At this point, the lymph nodes and lympathic vessels will also start to swell.
These symptoms develop in a very slow manner, sometimes taking years. Those who are infected do not show any outward signs until the disease reaches its late phase. In the latter stage of the disease, affected persons are immediately identified because of their grossly swollen legs, arms, breasts or genitals with cracked, thickened skin that is rough and hard to the touch. LF can also cause damage to the kidneys and the entire lympathic system. People who are affected by lympathic filariasis are subjected to social stigma and are unable to live a normal life.
In the past, it was very difficult to diagnose filariasis because the parasitic worms could only be detected by looking at blood samples through a microscope. These parasites are also nocturnal, which meant that they only showed up in the blood shortly before or after midnight. Just recently, a simple and very sensitive ICT “card test” was developed that could identify parasite antigens, foreign protein substances from an infection, in just a few drops of blood. This could now be achieved at any time during the day without the need of a laboratory.
Other methods of detecting the presence of lympathic filariasis can be made using a Giemsa stained thick blood film, a test taken at night by examining a drop of blood smeared on a slide, and PCR assays, a sensitive organism-detection method.
Treatment includes medications like ivermectin (Mectizan) and Albendazole, both anti-parasitic drugs. However, the best way to eliminate lympathic filariasis would be to prevent the spread of infection.
In areas where filariasis is endemic (concentrated), treating the whole community involves getting rid of all the parasites in the blood of infected persons. This way, the infection is prevented from spreading. In recent studies, it was found that diethylcarbamazine (DEC), ivermectin and Albendazole combined in single doses can significantly decrease microfilariae in the blood by as much as 99%, and last for 12 months after administering treatment.
While these medications are effective in eliminating adult filarial worms, treatment for late stage elephantiasis and hydrocoele is still in need of improvement. The goal would be to ease the pain and discomfort of swollen body parts. Some treatments include injections of schlerosants to treat fluid accumulation, and surgical procedures to remove excessively swollen tissue. Sometimes a lymphovenous shunt to drain fluid is performed.
To manage existing symptoms, doctors advice a lot of bed rest, wearing elastic bandages or surgical stockings to reduce swelling, wearing comfortable shoes, exercising the swollen limb at regular intervals, raising affected legs at night, and taking antibiotics to prevent bacterial infections. A rigid hygienic regimen is also recommended to prevent further bacterial infection and to stimulate lymph functions. Keeping the affected areas clean can diminish periods of inflammation, also known as “filarial fevers”, and improve the appearance of elephantiasis.
While mild cases are relatively easy to treat, it becomes more difficult if the disease has reached its late stages.
Preventing the occurrence of lympathic filariasis means avoiding the bites of mosquitoes suspected of carrying the disease. The World Health Organization recommends limiting any outdoor activities during nighttime, especially if living in rural areas or jungles; wearing long sleeves and long pants; avoiding dark-colored clothing which is attractive to mosquitoes; not wearing scents like perfume or cologne; treating clothes with an insect repellent like permethrin (Duramon, Permanone); using citronella or lemon eucalyptus leaves to ward off mosquitoes; installing screens and mosquito nets, and using air-conditioning, as cooler air causes mosquitoes to become lethargic.
In a 2007 study by the National Institute of Allergy and Infectious Disease (NIAID), 23,500 people living in Egypt participated in a two-year health assessment program to test the effectiveness of an LF elimination campaign.
While there is no vaccine for LF as of the present, scientists are still working to find a preventive inoculation for the disease. The World Health Organization also continues its drive to stop the infection from spreading, and to ease the symptoms of those already infected. Even global healthcare corporations like SmithKline Beecham, and Merck and Co., Inc. have joined the fight against lympathic filariasis through donation of medicines and supporting the elimination of the disease.

Friday, February 10, 2012

Mengusir Semut Merah

Kehadiran semut merah yang bergerombolan dalam jumlah yang sangat banyak sungguh tidak diinginkan, karena selain gigitan nya yang sangat sakit dan panas sekali juga membuat rumah terlihat jorok. Adapun cara untuk mengusir dan membasmi semut merah dengan bahan alami yang sangat ramah lingkungan diantaranya adalah sebagai berikut :
1.Menggunakan Daun Sirih Untuk Mengusir Semut. Letakkan daun sirih di tempat-tempat semut menempel dan sering kali berkumpul, seperti meja makan, topless gula, ataupun di atas kulkas. Bila perlu, gosok-gosokkan daun sirih tersebut di area yang kita kehendaki. Sebab bau daun sirih dapat membuat semut menyingkir.
2.Menggunakan Merica Biji Untuk Mengusir Semut Kita menaburkan merica biji yang ditumbuk. Terkait ini, kita perlu mengetahui bahwa pedas merica membuat semut kalang kabut. Sebab, semut tidak suka aroma merica tersebut.
3.Menggunakan Jagung Giling Kasar Untuk Mengusir Semut. Kita menggunakan jagung giling kasar untuk membasmi semut. Teori di balik ini adalah semut yang makan jagung giling kasar, ketika ia minum air yang terkandung dalam jagung giling itu, maka perutnya akan mengembang yang akhirnya membunuh semut tersebut.
4.Menggunakan Larutan Sabun Cuci Cair Untuk Mengusir Semut. Kita menggunakan larutan sabun cuci cair. Caranya, kita memasukkan larutan sabun cuci cair. Caranya kita memasukkan larutan sabun cuci cair kedalam botol penyemprot. Selanjutnya, kita menyemprotkan larutan tersebut pada area yang sering kali di datangi semut.
5.Menggunakan Obat Nyamuk Bakar Untuk Mengusir Semut . Kita menggunakan obat nyamuk bakar. Caranya, abu obat nyamuk bakar dimasukkan kedalam lubang semut. Kita memasukkan semuanya sampai penuh dan tidak ada celah. Kemudian kita tutup dengan lelehan lilin.
6.Menggunakan Campuran Sirup, Gula dan Ragi Untuk Mengusir Semut
Kita menggunakan campuran sirup, gula dan ragi untuk mengusir semut. Caranya, campurkan ketiga bahan tersebut sampai berubah menjadi pasta. Oleskan pasta pada kertas, lalu guntinglah menjadi beberapa bagian. Kemudian, letakkan pada tempat yang sering kali dilewati semut. Dengan begitu semut akan memakannya dan teracuni oleh ragi.

Pengertian Pemanasan Global

          Pemanasan global dapat diartikan sebagai menghangatnya permukaan Bumi selama beberapa kurun waktu. Ini adalah gejala alam yang normal sebenarnya. Kalau tidak mendapat pemanasan maka suhu di Bumi bisa menjadi dingin membeku .
          Pemanasan global dapat mengakibatkan  perubahan iklim. Hal ini disebabkan adanya gas efek rumah kaca yang berlebihan (lebih dari kondisi normal) di atmosfer bumi, sebagai akibat terganggunya komposisi gas-gas rumah kaca utama seperti CO2 (Karbon dioksida),CH4(Metan) dan N2O (Nitrous Oksida), HFCs (Hydrofluorocarbons), PFCs (Perfluorocarbons) and SF6 (Sulphur hexafluoride) di atmosfer.
          Sebelumnya kita perlu mengetahui apa itu iklim, efek rumah kaca, Gas rumah kaca dan  darimanakah sumber gas-gas tersebut dihasilkan?.   Secara umum iklim adalah sebagai hasil interaksi proses-proses fisik dan kimiafisik parameternya, seperti suhu, kelembaban, angin, dan pola curah hujan yang terjadi   pada suatu tempat di muka bumi. Iklim muncul akibat dari pemerataan energi bumi yang tidak tetap dengan adanya perputaran/revolusi bumi mengelilingi matahari selama kurang lebih 365 hari serta rotasi bumi selama 24 jam. Hal tersebut menyebabkan radiasi matahari yang diterima berubah tergantung lokasi dan posisi geografi suatu daerah.  Indonesia merupakan daerah yang berada di posisi sekitar 23,5 Lintang Utara 23,5 Lintang Selatan, yang merupakan daerah tropis yang konsentrasi energi suryanya surplus dari radiasi matahari yang diterima setiap tahunnya.
          Pemanasan pada permukaan Bumi dikenal dengan istilah 'Efek Rumah Kaca' atau Greenhouse Effect. Proses ini berawal dari sinar Matahari yang menembus lapisan udara (atmosfer) dan memanasi permukaan Bumi.
            Gas rumah kaca adalah gas-gas yang ada di atmosfir yang menyebabkan efek gas rumah kaca. Gas-gas tersebut sebenarnya muncul secara alami di lingkungan, tetapi dapat juga timbul akibat aktifitas manusia.  Termasuk didalamnya adalah uap air, gas yang mengandung CO2 (Karbon dioksida), CH4(Metan) dan N2O (Nitrous Oksida), HFCs (Hydrofluorocarbons), PFCs (Perfluorocarbons) and SF6 (Sulphur hexafluoride) .
 
Sumber gas rumah kaca
 
Uap Air
          Gas rumah kaca yang paling banyak adalah uap air yang mencapai atmosfer akibat penguapan air dari laut, danau dan sungai.       Uap air adalah gas rumah kaca yang timbul secara alami dan bertanggungjawab terhadap sebagian besar dari efek rumah kaca. Konsentrasi uap air berfluktuasi secara regional, dan aktifitas manusia tidak secara langsung mempengaruhi konsentrasi uap air kecuali pada skala lokal.
 
          Dalam model iklim, meningkatnya temperatur atmosfer yang disebabkan efek rumah kaca akibat gas-gas antropogenik akan menyebabkan meningkatnya konsentrasi uap air mengakibatkan meningkatnya efek rumah kaca; yang mengakibatkan meningkatnya temperatur; dan kembali semakin meningkatkan jumlah uap air di atmosfer. Keadaan ini terus berkelanjutan sampai mencapai titik ekuilibrium (kesetimbangan). Oleh karena itu, uap air berperan sebagai umpan balik positif terhadap aksi yang dilakukan manusia yang melepaskan gas-gas rumah kaca seperti CO2.  Perubahan dalam jumlah uap air di udara juga berakibat secara tidak langsung melalui terbentuknya awan.
 
b. CO2 (Karbon dioksida)
          Karbon dioksida adalah gas terbanyak kedua. Ia timbul dari berbagai proses alami seperti: letusan gunung berapi, hasil pernafasan hewan dan manusia (yang menghirup oksigen dan menghembuskan karbon dioksida); dan pembakaran material organik (seperti tumbuhan).
 
          Manusia telah meningkatkan jumlah karbon dioksida yang dilepas ke atmosfer ketika mereka membakar bahan baker fosil, limbah padat, dan kayu untuk menggerakkan kendaraan dan menghasilkan listrik. Pada saat yang sama, jumlah pepohonan yang mampu menyerap karbon dioksida semakin berkurang akibat perambahan hutan untuk diambil kayunya maupun untuk perluasan lahan pertanian.
 
          Karbon dioksida dapat berkurang karena terserap oleh lautan dan diserap tanaman untuk digunakan dalam proses fotosintesis. Fotosintesis adalah proses memecah karbondioksida dan melepaskan oksigen ke atmosfer serta mengambil atom karbonnya.
 
          Walaupun lautan dan proses alam lainnya mampu mengurangi karbon dioksida di atmosfer, aktifitas manusia yang melepaskan karbon dioksida ke udara jauh lebih cepat dari kemampuan alam untuk menguranginya.
 
c. CH4(Metan)
          Metana yang merupakan komponen utama gas alam juga termasuk gas rumah kaca. Ia merupakan insulator yang efektif, mampu menangkap panas 20 kali lebih banyak bila dibandingkan karbondioksida. Metana dilepaskan ke atmosfir selama produksi dan transportasi batu bara, gas alam danminyak bumi. Metana juga dihasilkan dari pembusukan limbah organik di tempat pembuangan sampah (landfill), bahkan dapat keluarkan oleh hewan-hewan tertentu, terutama sapi, sebagai produk samping dari pencernaan.
 
d. N2O (Nitrous Oksida)
          Nitrogen oksida adalah gas insulator panas yang sangat kuat. Ia dihasilkan terutama dari pembakaran bahan bakar fosil dan oleh lahan pertanian. Ntrogen oksida dapat menangkap panas 300 kali lebih besar dari karbondioksida.
HFCs (Hydrofluorocarbons), PFCs (Perfluorocarbons) dan SF6 (Sulphur hexafluoride) .
 
          Gas rumah kaca lainnya dihasilkan dari berbagai proses manufaktur. Campuran berflourinasi dihasilan dari peleburan aluminium. HFCs (Hydrofluorocarbons) terbentuk selama manufaktur berbagai produk, termasuk busa untuk insulasi, perabotan (furniture), dan tempat duduk di kendaraan. Lemari pendingin di beberapa negara berkembang masih menggunakan PFCs (Perfluorocarbons) sebagai media pendingin yang selain mampu menahan panas atmosfer juga mengurangi lapisan ozon (lapisan yang melindungi Bumi dari radiasi ultraviolet). Para ilmuan telah lama mengkhawatirkan tentang gas-gas yang dihasilkan dari proses manufaktur akan dapat menyebabkan kerusakan lingkungan. Pada tahun 2000, para ilmuan mengidentifikasi bahan baru yang meningkat secara substansial di atmosfer. Bahan tersebut adalah SF6 (Sulphur hexafluoride).  Konsentrasi gas ini di atmosfer meningkat dengan sangat cepat, yang walaupun masih tergolong langka di atmosfer tetapi gas ini mampu menangkap panas jauh lebih besar dari gas-gas rumah kaca yang telah dikenal sebelumnya. Hingga saat ini sumber industri penghasil gas ini masih belum teridentifikasi.
          Bagaimana Gas Rumah Kaca berperan dalam efek rumah kaca dan merubah iklim bumi? Mekanismenya kurang lebih dapat dijelaskan sebagai berikut: "atmosfer," adalah lapisan dari berbagai macam gas yang menyelimuti bumi, dan merupakan mesin dari sistem iklim secara fisik. Ketika pancaran/radiasi dari matahari yang berupa sinar tampak atau gelombang pendek memasuki atmosfer, beberapa bagian dari sinar tersebut direfleksikan atau dipantulkan kembali oleh awan-awan dan debu-debu yang terdapat di angkasa, sebagian lainnya diteruskan ke arah permukaan daratan. Dari radiasi yang langsung menuju ke permukaan daratan sebagian diserap oleh bumi, tetapi bagian lainnya “dipantulkan” kembali ke angkasa oleh es, salju, air, dan permukaan-permukaan reflektif bumi lainnya. Proses pancaran sinar matahari dari angkasa menembus atmosfer  sampai menuju permukaan bumi hingga dapat kita rasakan suhu bumi menjadi hangat disebut efek rumah kaca. Tanpa ada efek rumah kaca di sistem ikim bumi, maka bumi menjadi tidak layak dihuni karena suhu bumi terlalu rendah (minus).
          Dari penjelasan di atas dapat kita mengerti bagaimana mekanisme terjadinya efek rumah kaca di bumi. Lalu bagaimana keterkaitan antara efek rumah kaca, pemanasan global dan perubahan iklim? Secara sederhana dijelaskan sebagai berikut sinar matahari yang tidak terserap permukaan bumi akan dipantulkan kembali dari permukaan bumi ke angkasa. Sebagaimana telah dijelaskan di atas, sinar tampak adalah gelombang pendek, setelah dipantulkan kembali berubah menjadi gelombang panjang yang berupa energi panas (sinar inframerah), yang kita rasakan. Namun sebagian dari energi panas tersebut tidak dapat menembus kembali atau lolos keluar ke angkasa, karena lapisan gas-gas atmosfer sudah terganggu komposisinya (komposisinya berlebihan). Akibatnya energi panas yang seharusnya lepas keangkasa (stratosfer) menjadi terpancar kembali ke permukaan bumi (troposfer) atau adanya energi panas tambahan kembali lagi ke bumi dalam kurun waktu yang cukup lama, sehingga lebih dari dari kondisi normal, inilah efek rumah kaca berlebihan karena komposisi lapisan gas rumah kaca di atmosfer terganggu, akibatnya memicu naiknya suhu rata-rata dipermukaan bumi maka terjadilah pemanasan global. Karena suhu adalah salah satu parameter dari iklim dengan begitu berpengaruh pada iklim bumi, terjadilah perubahan iklim secara global.